Ada dua orang perempuan Selvi dan darry yg bersahabat layaknya saudara, semua mereka lakukan bersama. Dari mulai selera berbagai hal sampai dengan menyekolahkan anak2nya di sekolah yang sama, anak mereka pun selalu sekelas. Mereka tampak sangat akrab dan menyenangkan, tak heran semua orang menyukai nya.
Suatu hari persahabatan mereka diuji. Ketika tahun ajaran baru anak selvi dan anak darry terpisah kelas dan bertemu dengan teman2nya yg baru. Selvi dan darry pun jd jarang bertemu, walau kerap mereka komunikasi lewat telpon. Darry yang lebih sering berada di rumah dan terbiasa nyaman berada dilingkungan yg lbh kecil, merasakan perubahan pd diri selvi, dia merasa kian jauh dengan sahabatnya itu. Selvi lebih sering bersama dengan teman2 baru dan lingkungan baru. Walau selvi dan darry sering bertemu, darry merasakan perubahan drastis pd diri sahabatnya. Selera berpakaian Selvi tampak sedikit berubah, seleran makanan selvi pun demikian, bahkan dari cara berbicarapun banyak kata2 baru yg digunakan Selvi yg tdk dimengerti Darry. Darry merasa Selvi menjauhi nya dan mulai mencari cari alasan untuk tidak bertemu dengannya.
Sampai pada suatu kesimpulan, Darry mulai membuka permusuhan dengan sahabatnya sendiri itu, pesan singkat kadang terlambat ia respon, ajakan untuk mengantar anak ditolak oleh Darry dan sebagainya. Puncak nya adalah ketika Darry bertemu dengan teman2 dari luar lingkungan Selvi yg ia rasakan sangat membuatnya nyaman menggantikan posisi Selvi sebagai sahabatnya. Dengan cepat Darry pun melupakan Selvi. Tentu sj hal itu sgt dirasakan Selvi yg heran dengan tingkah laku sahabatnya itu. Pada suatu hari ketika Selvi sedang asik berkumpul dengan beberapa wanita, seseorang yg lain menegurnya,
"Hai Selvi, mana Darry ? Spt nya kalian udh lama ya gak kliatan berdua"
"Iya, krn anak kt gak sekelas dan waktu pulang nya jg sedikit berbeda jadi mungkin kt jarang ketemu"
"Ooh syukurlah kl tidak ada apa2"
"Maksudnya ?"
"Yang aku dengar kalian ada masalah....."
Bla bla bla bla bla
Kalimat demi kalimat yg meluncur dari wanita itu kemudian sangat menyesakan buat Selvi, ia tidak menyangka sahabatnya begitu membencinya tanpa ia tahu alasan yg sebenarnya. Walau ia tidak mau percaya kebenaran cerita itu tak ayal ia menanyakannya pd Darry.
"Darry, aku dengar sesuatu yg jelek yg sudah kamu katakan pada salah satu teman kt, apa itu benar ?"
"Siapa ? Temen gw kali bukan temen lo"
"Apa itu benar darry ?"
"Lo tuh belagu mentang2 punya temen2 baru dan lebih dari gw, lo gak mau lg temenan ama gw !! Emg gw gak sekaya temen2 lo ya jd mungkin lo gak mw temenan ama gw lg"
"Kata siapa Darry ? Km tetep sahabatku !! Kalo aku berteman dgn siapa saja selain dgn kamu ya wajar2 saja kan ? Aku seneng bertemu dengan lingkungan baru dan menambah wawasanku, lagian tdk semua jg orang2 baru banyak dr mereka ternyata tetanggaku dl di tempat ku yang lama, trs ada beberapa suami mereka jg kenal suamiku !! Bahkan mereka semuanya baiiik sekali !! Pertemanan kami tdk berdasarkan status sosial dan hal2 lain yg spt km maksud"
"Lo skrg jd pinter ngomong sejak bergaul sm mereka"
"Astagfirrulaahaladziim Darry....tidak baik menilai seseorang yg tidak km kenal dekat. Bertemanlah dengan mereka dgn niat positif dan tnp maksud lain2. Aku tidak pernah melarang km utk bergaul dengan siapa sj selain aku, bahkan aku senang kalau kamupun mendapat banyak teman2 baru"
"Gw gak suka sama temen2 lo, banyak omong dan sombong !! Sok kaya semua".
"Astagfirullahaladziim....sekali lg ya Darry, gak baiiiik kamu menjudge orang seakan km tau segalanya ttg org itu ! Padahal mereka tidak pernah mengatakan sesuatu yg buruk ttg km ! Gak darry, gak boleh. Aku sebagai sahabatmu sangat sedih mendengar km punya pikiran spt itu"
"yauda lo gak usah berteman ama gw lg selamanya, sana ama temen2 lo aja !!! Lo lebih nyaman kan ? Apalah arti nya gw buat kalian !!!"
Dengan sedih, Selvi menyudahi pembicaraan dengan Darry tanpa satu solusi yg bisa membuatnya memperbaiki pertemanannya dengan Darry. Ia hanya berpikir, apakah ia salah mempunyai teman2 menyenangkan selain Darry ? Apakah tidak boleh mempunyai sahabat2 lain selain Darry ? Begitu piciknyakah Darry tidak mau menerima kenyataan bahwa mereka boleh berteman dengan siapa saja diluar pertemanan mereka ? Atau Ia sendiri yg memang ingin menjauh dr Darry ?
Berbagai pertanyaan lain menggantung dikepalanya, tapi yg amat ia sedihkan adalah kehilangan sahabat yg disebabkan masalah yg tidak ada artinya itu. Makin ia pikirkan, makin membuat nya sedih. Ia putuskan bahwa persahabatannya dengan Darry meyakini nya satu hal, seberapa lama ia dekat dengan Darry ternyata ada hal2 lain diluar itu yg tidak ia ketahui ttg Darry. Hal2 yg membuatnya tdk percaya jk itu dilakukan seorang sahabat. Boleh2 saja ia menganggap sangat dekat bersahabat dan berteman layaknya saudara dengan Darry, tp disaat lain Darry bisa berubah menjadi seorang yg amat memusuhinya.
Benar spt yg Tsun Tzu bilang (seorang panglima perang dr china yg sudah memenangkan pertempuran terbanyak sepanjang sejarah china)
"Kenali sahabatmu, lebih kenali lagi musuhmu....maka 1000x perang, 1000x menang akan kau dapatkan" (Tsun Tzu)
LOVE 3G
aku banget dengan segala kekuranganku
Minggu, 05 Februari 2012
Jumat, 06 Januari 2012
Anakku cinta
Kemarin malam anak lelakiku bikin jantung mau copot dengan pernyataan nya. Gimana gak, malam itu malam jumat, udah siap-siap mau tidur, anaku yang perempuan malah udaj nyenyak sekali tidurnya, walau terhitung belum terlalu malam siy masih sekitar jam 20.40 an gitu. Kebiasaan sebelum mereka tidur adalah memeluk satu-satu, memcium kening, pipi, muka, sampai badan nya (abis mereka wangi sekali, kebayang kan uterus bergolak waktu menghirup aroma asli kulit anak). Setelah ritual itulah anak lelakiku, Ghanez tiba-tiba nyeletuk,
"Bunda, kakak pengen nangis..."
sambil terus sesenggukan setelah kalimat pertama meluncur dari mulutnya. Aku yang agak heran melihatnya langsung memjawab kenapa ia sampai menangis padahal gak ada apa-apa.
"Kakak gak mau meninggal buun..."
Meledaklah tangisnya menggantikan intro sesenggukan tadi, antara memdengar dan kurang jelas memdengarnya, aku si bunda nya langsung meminta dia untuk lebih jelas lagi bicara dan berhenti menangis.
"Iya buun, kakak gak mau meninggal, kalau kakak meninggal kakak pengen hidup lagi. Kakak takut bun, kakak gak mau kalau kakak gak bisa liat ayah, bunda sama icel"
Aku yang mendengar curhatan anak umur 6,5 tahun itu langsung jadi pengen ikut nangis, pernyataan nya yang tiba-tiba tanpa diduga itu langsung aku proses dan mencari kata-kata yang pas buat menenangkannya.
Aku lalu menjawab, kakak kenapa tiba-tiba ngomong begitu, apa yang membuat nya jadi punya perasaan seperti itu. Dia lalu menjawab lagi, "Gak ada apa-apa bun, kakak cuman sedih aja kalo kakak meninggal"
Akhirnya aku menerangkan panjang lebar kepadanya, bahwa kematian itu rahasia ALLAH SWT, tidak ada satupun manusia yang tahu kapan ia meninggal. Bisa saat ini juga, besok, bulan depan, tahun depan bahkan 50, 100 tahun lagi.
"Tapi kakak nanti kalo kakak udah jadi kakek, kakak sakit gak bun ?"
Pertanyaan-pertanyaan makin aneh terus terucap dari bibir mungilnya, seakan masih banyak hal yang perlu ditanyakan menunggu jawaban saat itu juga. Dengan sabar, aku mencoba menjawab nya sambil terus aku peluk badan yang masih terguncang kecil karena sesenggukan.
Malam itu kami tutup dengan tidur saling berpelukan di tempat tidur yang jadi sempit yang juga seharusnya jadi tidak nyaman. Tapi melihat wajah-wajah yang begitu polos, tulus, wangi dan meminta perlindungan, semua itu lebih dari cukup umtuk membuat space seluas dunia yang bisa kami tiduri.
Love u Ghanez, Grizel...
The World can be at war, but the momment my hand wraps around you tightly, everything is gonna be fine
"Bunda, kakak pengen nangis..."
sambil terus sesenggukan setelah kalimat pertama meluncur dari mulutnya. Aku yang agak heran melihatnya langsung memjawab kenapa ia sampai menangis padahal gak ada apa-apa.
"Kakak gak mau meninggal buun..."
Meledaklah tangisnya menggantikan intro sesenggukan tadi, antara memdengar dan kurang jelas memdengarnya, aku si bunda nya langsung meminta dia untuk lebih jelas lagi bicara dan berhenti menangis.
"Iya buun, kakak gak mau meninggal, kalau kakak meninggal kakak pengen hidup lagi. Kakak takut bun, kakak gak mau kalau kakak gak bisa liat ayah, bunda sama icel"
Aku yang mendengar curhatan anak umur 6,5 tahun itu langsung jadi pengen ikut nangis, pernyataan nya yang tiba-tiba tanpa diduga itu langsung aku proses dan mencari kata-kata yang pas buat menenangkannya.
Aku lalu menjawab, kakak kenapa tiba-tiba ngomong begitu, apa yang membuat nya jadi punya perasaan seperti itu. Dia lalu menjawab lagi, "Gak ada apa-apa bun, kakak cuman sedih aja kalo kakak meninggal"
Akhirnya aku menerangkan panjang lebar kepadanya, bahwa kematian itu rahasia ALLAH SWT, tidak ada satupun manusia yang tahu kapan ia meninggal. Bisa saat ini juga, besok, bulan depan, tahun depan bahkan 50, 100 tahun lagi.
"Tapi kakak nanti kalo kakak udah jadi kakek, kakak sakit gak bun ?"
Pertanyaan-pertanyaan makin aneh terus terucap dari bibir mungilnya, seakan masih banyak hal yang perlu ditanyakan menunggu jawaban saat itu juga. Dengan sabar, aku mencoba menjawab nya sambil terus aku peluk badan yang masih terguncang kecil karena sesenggukan.
Malam itu kami tutup dengan tidur saling berpelukan di tempat tidur yang jadi sempit yang juga seharusnya jadi tidak nyaman. Tapi melihat wajah-wajah yang begitu polos, tulus, wangi dan meminta perlindungan, semua itu lebih dari cukup umtuk membuat space seluas dunia yang bisa kami tiduri.
Love u Ghanez, Grizel...
The World can be at war, but the momment my hand wraps around you tightly, everything is gonna be fine
Senin, 12 Desember 2011
Perjalanan indah
Aku adalah ibu dari dua anak-anak kecil lucu, menggemaskan, pintar dan sangat berbeda karakternya. Zahran Ghanezia P (Ghanez) lahir 2 juni 2005 laki-laki, seorang yang sangat sensitif, penyayang, ekspresionis, smart, bodily, penyuka permainan animal kaiser, futsal juga sepak bola. Audrey Grizelda P (Grizel/Icel) lahir 12 Februari 2007 perempuan, lempeng dot com, pinter, -gak mau diem-, bodily, suka barbie dan semua mainan anak perempuan, pinky girl dan keras kepala.
Kata orang tua, jadi seorang ibu itu gak ada sekolahnya, tidak bisa dipelajari, bahkan lebih mungkin lagi justru kita yang seperti ikut sekolah lagi. Selalu ada hal-hal baru yang kita temukan setiap hari. Secara otomatis kita jadi psikolog rumahan yang punya 'pasien' eksklusif. Tapi kadangkala jika emosi sampai taraf tingkat ubun-ubun kesanaan dikit, rasanya malah kita yang perlu seorang psikolog beneran hehehe...Kedua anakku yang beda karakter itu ( kesamaan mereka hanya sama-sama gak mau diem) tahu banget cara membuat orang tua nya jadi cerewet. Pepatah 'Life is a journey' benar- bener dirasakan dalam arti sesungguhnya ketika kita punya anak memang. Jaman sudah berubah, nilai-nilai yang dulu sempat diajarkan oleh orang tua aku banyak yang sudah tidak relevan lagi dengan keadaan sekarang. Terutama cara mendidik anak yang otoriter. Anak sekarang mana mau diperintah, mereka selalu punya jawaban untuk kata-kata yang buat mereka tidak masuk akal. Kalau dulu mana berani coba...
Kata-kata seperti "kalau mama dulu....", "mama/papa lebih tau...." udah jarang ampuh buat kasih perbandingan kemereka. Tentu disini kita gak bicarain bekal dasar buat mereka yaitu ajaran agama (mutlak, harus, supaya mereka punya pegangan) tapi kecara yang lebih bisa diterima mereka dalam kasih pengertian/jawaban atau bahkan nasehat. Susah gak siy loo tiba-tiba anak umur 6 dan 5 tahun nanya, "bun, meninggal itu apa ?", "bunda kapan meninggalnya ?", "bun, ko bisa kakak adik tapi tinggalnya gak serumah ?", "bun, yang boleh menikah dua kali kan nabi ya ?", "orang biasa ko boleh menikah lagi ?", "ayah nya sama tp kok bundanya beda ?", "aku pengen punya baby biar perut aku gendut", "kalau mau punya baby harus menikah dulu tapi gak boleh banyak-banyak"
Serentetan pertanyaan, pernyataan dari anak-anak lah yang bikin sebagian Life jadi journey. Betapa tidak, jawaban dari kita mana bisa berbentuk "bohong putih" lagi ( yang ada juga bawang putih ). "salam pake tangan bagus dong sayang"..."bun, tanganku semuanya bagus, gak ada yang jelek, adanya cuman tangan kanan dan tangan kiri"....*nah loh*. Hadeeeuh...Susahnya lagi sebagian dari kita sekarang adalah produk masa lalu yang kadang-kadang otomatis si kata-kata pamungkas dan andalan itu masih suka terucap ke anak-anak kita ( brain storming banget ). Alhasil anak-anak lah yang jadi guru bahkan psikolog yang baik buat orang tuanya. Terlepas dari itu semua kenikmatan jadi orang tua adalah jadi saksi langsung dalam proses tumbuh kembang nya mereka. Terlibat 100 persen dalam proses pembentukan masa emas mereka. Kita tahu persis kapan mereka mulai bisa tengkurep, kata pertama yang diucapkan, bisa berjalan, hari pertama masuk sekolah, cerita tentang teman-temannya, suka sama seseorang, marah sama seseorang, sakit, disunat, ulang tahun, sampai menikah...whuoaaaaa...*memitikan air mata*. Gimana gak, perjalanan yang kita lalui ibarat sebuah petualangan naik turun yang penuh kejutan. Percayalah jika mereka besar kelak, beberapa tahun lagi deh, kita pasti ingin balik lagi ke masa dimana mereka masih bayi atau balita.
So,
Enjoy your momments
Kata orang tua, jadi seorang ibu itu gak ada sekolahnya, tidak bisa dipelajari, bahkan lebih mungkin lagi justru kita yang seperti ikut sekolah lagi. Selalu ada hal-hal baru yang kita temukan setiap hari. Secara otomatis kita jadi psikolog rumahan yang punya 'pasien' eksklusif. Tapi kadangkala jika emosi sampai taraf tingkat ubun-ubun kesanaan dikit, rasanya malah kita yang perlu seorang psikolog beneran hehehe...Kedua anakku yang beda karakter itu ( kesamaan mereka hanya sama-sama gak mau diem) tahu banget cara membuat orang tua nya jadi cerewet. Pepatah 'Life is a journey' benar- bener dirasakan dalam arti sesungguhnya ketika kita punya anak memang. Jaman sudah berubah, nilai-nilai yang dulu sempat diajarkan oleh orang tua aku banyak yang sudah tidak relevan lagi dengan keadaan sekarang. Terutama cara mendidik anak yang otoriter. Anak sekarang mana mau diperintah, mereka selalu punya jawaban untuk kata-kata yang buat mereka tidak masuk akal. Kalau dulu mana berani coba...
Kata-kata seperti "kalau mama dulu....", "mama/papa lebih tau...." udah jarang ampuh buat kasih perbandingan kemereka. Tentu disini kita gak bicarain bekal dasar buat mereka yaitu ajaran agama (mutlak, harus, supaya mereka punya pegangan) tapi kecara yang lebih bisa diterima mereka dalam kasih pengertian/jawaban atau bahkan nasehat. Susah gak siy loo tiba-tiba anak umur 6 dan 5 tahun nanya, "bun, meninggal itu apa ?", "bunda kapan meninggalnya ?", "bun, ko bisa kakak adik tapi tinggalnya gak serumah ?", "bun, yang boleh menikah dua kali kan nabi ya ?", "orang biasa ko boleh menikah lagi ?", "ayah nya sama tp kok bundanya beda ?", "aku pengen punya baby biar perut aku gendut", "kalau mau punya baby harus menikah dulu tapi gak boleh banyak-banyak"
Serentetan pertanyaan, pernyataan dari anak-anak lah yang bikin sebagian Life jadi journey. Betapa tidak, jawaban dari kita mana bisa berbentuk "bohong putih" lagi ( yang ada juga bawang putih ). "salam pake tangan bagus dong sayang"..."bun, tanganku semuanya bagus, gak ada yang jelek, adanya cuman tangan kanan dan tangan kiri"....*nah loh*. Hadeeeuh...Susahnya lagi sebagian dari kita sekarang adalah produk masa lalu yang kadang-kadang otomatis si kata-kata pamungkas dan andalan itu masih suka terucap ke anak-anak kita ( brain storming banget ). Alhasil anak-anak lah yang jadi guru bahkan psikolog yang baik buat orang tuanya. Terlepas dari itu semua kenikmatan jadi orang tua adalah jadi saksi langsung dalam proses tumbuh kembang nya mereka. Terlibat 100 persen dalam proses pembentukan masa emas mereka. Kita tahu persis kapan mereka mulai bisa tengkurep, kata pertama yang diucapkan, bisa berjalan, hari pertama masuk sekolah, cerita tentang teman-temannya, suka sama seseorang, marah sama seseorang, sakit, disunat, ulang tahun, sampai menikah...whuoaaaaa...*memitikan air mata*. Gimana gak, perjalanan yang kita lalui ibarat sebuah petualangan naik turun yang penuh kejutan. Percayalah jika mereka besar kelak, beberapa tahun lagi deh, kita pasti ingin balik lagi ke masa dimana mereka masih bayi atau balita.
So,
Enjoy your momments
Jumat, 09 Desember 2011
Ada yang tau harga nyawa berapa ?
Berasa banget gak siy sekarang dunia makin berbahaya buat anak-anak ? kalo denger berita di tv sama baca berita di koran, internet dll banyak penjahat yg sakit dan nekat, miris dan ngeri baca nya. Perkosaan anak dibawah umur, seks bebas, jual beli bayi dan anak-anak, narkoba, belum lagi ibu atau bapak kandung yang tega sama anak sendiri. *nutup muka*
Dulu jaman aku kecil, aku ngerasa aman-aman aja jalan sendiri ke sekolah yang jarak nya 500 M gt dari rumah. Merasa senang ketemu orang-orang di jalan bahkan sama yang gak kenal sekalipun. Merasa berani pergi les sendiri, berenang atau cuman sekedar beli sesuatu di depan kompleks. Kayaknya malah itu semua bagian dari kehidupan kita masa kecil.
Sekarang jauuuuh banget bedanya (sejauh kalo mau makan mie enak di daerah pasar senen sana, males gak siy loo makan mie jauh-jauh). Sekarang jangan kan pergi sekolah jauh-jauh, ke warung depan aja, aku gak akan ijinin anak-anaku pergi sendiri, eh jangankan itu deh, berduaan cuman ama supir atau PRT laki-laki jg pasti gak akan aku biarin. Gak akan deh...
Tadi baru aku baca pembunuhan yang terjadi di daerah pluit beberapa hari yang lalu, yang korbannya anak laki-laki umur 16 tahun. Dia ditusuk dibagian leher waktu turun dari trans jakarta. Sakit hatinya lagi ternyata motif nya "cuman" gara-gara si pelaku ngiler liat HP korban *hiks* *buli rame-rame itu pelaku*. Walau pelaku nya ditangkap terus dihukum plus sujud-sujud sama orang tua si korban, pasti gak akan ngembaliin perasaan orang tua korban apalagi menghidupkan lagi nyawa yang hilang. Gara-gara HP !!! omaigat !!
Terus ada anak SMA yang juga jadi korban penusukan di salah satu cafe terkenal. Sampai pas aku tulis ini kasus nya masih belum benar-benar terungkap. Itu juga motifnya gak jelas kenapa..
Why....why....
Berapa sih harga nyawa itu sebenarnya ?
Kenapa ada orang-orang yang begitu menghargai nya dengan rendah atau bahkan gak ada harganya atau mungkin seharga HP keluaran terbaru atau seharga bayaran gara-gara senggolan pas joget atau seharga diri yang gak rela kalo sekolahnya diejek ?
*sigh
Gimana aku mesti tenang nanti ? apa gak bakalan deg-degan terus nungguin anak pulang sekolah, les, nonton, hangout, pacaran, apa mesti aku ikutin terus ? #DilemaEmak-emak
Apalagi jaman mereka nanti pasti lebih kompleks lagi tuh, belum lagi gak mungkin bisa diatur harus begini begitu emang jaman aku dulu bisa begitu ? *curlan (curcol lanjutan)*
Pokok nya menurut aku kita harus ekstra hati-hati deh sama semua yang ada di lingkungan sekitar, apalagi biasanya ibu lebih peka membaca perubahan pada anaknya (iyalaah namanya juga anak sendiri). Sekarang jaman nya udah edan, seedan antrian tiket katy perry #yaelaa
(˘ﻬ˘)
Intinya jadi orang tua dijaman sekarang itu gak gampang, jadi anak apalagi (susah nolaknya kalo ada yang ngajak enak-enak). Kita perlu mata ke tiga, hati ke dua buat bantuin kepekaan kita ekstra kerjanya. Kenapa ? karena standar aja gak cukup buat bekalin anak dan menjejali mereka dengan pengalaman jaman dulu, jaman nya aja beda. Bisa-bisa dibantai mereka dengan rumus kimia #nahloh
Dulu jaman aku kecil, aku ngerasa aman-aman aja jalan sendiri ke sekolah yang jarak nya 500 M gt dari rumah. Merasa senang ketemu orang-orang di jalan bahkan sama yang gak kenal sekalipun. Merasa berani pergi les sendiri, berenang atau cuman sekedar beli sesuatu di depan kompleks. Kayaknya malah itu semua bagian dari kehidupan kita masa kecil.
Sekarang jauuuuh banget bedanya (sejauh kalo mau makan mie enak di daerah pasar senen sana, males gak siy loo makan mie jauh-jauh). Sekarang jangan kan pergi sekolah jauh-jauh, ke warung depan aja, aku gak akan ijinin anak-anaku pergi sendiri, eh jangankan itu deh, berduaan cuman ama supir atau PRT laki-laki jg pasti gak akan aku biarin. Gak akan deh...
Tadi baru aku baca pembunuhan yang terjadi di daerah pluit beberapa hari yang lalu, yang korbannya anak laki-laki umur 16 tahun. Dia ditusuk dibagian leher waktu turun dari trans jakarta. Sakit hatinya lagi ternyata motif nya "cuman" gara-gara si pelaku ngiler liat HP korban *hiks* *buli rame-rame itu pelaku*. Walau pelaku nya ditangkap terus dihukum plus sujud-sujud sama orang tua si korban, pasti gak akan ngembaliin perasaan orang tua korban apalagi menghidupkan lagi nyawa yang hilang. Gara-gara HP !!! omaigat !!
Terus ada anak SMA yang juga jadi korban penusukan di salah satu cafe terkenal. Sampai pas aku tulis ini kasus nya masih belum benar-benar terungkap. Itu juga motifnya gak jelas kenapa..
Why....why....
Berapa sih harga nyawa itu sebenarnya ?
Kenapa ada orang-orang yang begitu menghargai nya dengan rendah atau bahkan gak ada harganya atau mungkin seharga HP keluaran terbaru atau seharga bayaran gara-gara senggolan pas joget atau seharga diri yang gak rela kalo sekolahnya diejek ?
*sigh
Gimana aku mesti tenang nanti ? apa gak bakalan deg-degan terus nungguin anak pulang sekolah, les, nonton, hangout, pacaran, apa mesti aku ikutin terus ? #DilemaEmak-emak
Apalagi jaman mereka nanti pasti lebih kompleks lagi tuh, belum lagi gak mungkin bisa diatur harus begini begitu emang jaman aku dulu bisa begitu ? *curlan (curcol lanjutan)*
Pokok nya menurut aku kita harus ekstra hati-hati deh sama semua yang ada di lingkungan sekitar, apalagi biasanya ibu lebih peka membaca perubahan pada anaknya (iyalaah namanya juga anak sendiri). Sekarang jaman nya udah edan, seedan antrian tiket katy perry #yaelaa
(˘ﻬ˘)
Intinya jadi orang tua dijaman sekarang itu gak gampang, jadi anak apalagi (susah nolaknya kalo ada yang ngajak enak-enak). Kita perlu mata ke tiga, hati ke dua buat bantuin kepekaan kita ekstra kerjanya. Kenapa ? karena standar aja gak cukup buat bekalin anak dan menjejali mereka dengan pengalaman jaman dulu, jaman nya aja beda. Bisa-bisa dibantai mereka dengan rumus kimia #nahloh
Kamis, 08 Desember 2011
KUAT
Kutempa hatiku kian kukuh....
Kau tak akan bisa menembus nya....lagi....
Salah mu memberiku tegar
Karna kini ku berteman dengan sang pahit.....Hingga makin ku kenal lagi duka dan sakit hati yg kurasa
senyumku datang tuk jadi pengganti.....kau boleh melihatnya
Lihatlah seperti kau mengingat apa yang sudah kau goreskan.....
Kuyakinkan kau, tak akan ada air mata kali ini
maaf membuatmu kecewa......ku akan pelit 'tuk menghamburkannya padamu
Maka....
Kuperkenalkan kau pada cahaya
Berbicaralah padanya tentang kekaguman nya padaku
Atau tentang terjaga nya ia di lelapku
Baginya,
Malamku adalah siang nya
Siang ku adalah cerahnya
Hujanku adalah saat payung nya bekerja
Jadi......
Untuk apa kau berusaha membuatku menangis ??
Kekuatanmu sudah tak ada
Kau boleh pergi diam-diam atau menyaksikan cahaya menerangiku.....
Kali ini.....
Kau yang akan pilu
jakarta 24 mei 2009
Kau tak akan bisa menembus nya....lagi....
Salah mu memberiku tegar
Karna kini ku berteman dengan sang pahit.....Hingga makin ku kenal lagi duka dan sakit hati yg kurasa
senyumku datang tuk jadi pengganti.....kau boleh melihatnya
Lihatlah seperti kau mengingat apa yang sudah kau goreskan.....
Kuyakinkan kau, tak akan ada air mata kali ini
maaf membuatmu kecewa......ku akan pelit 'tuk menghamburkannya padamu
Maka....
Kuperkenalkan kau pada cahaya
Berbicaralah padanya tentang kekaguman nya padaku
Atau tentang terjaga nya ia di lelapku
Baginya,
Malamku adalah siang nya
Siang ku adalah cerahnya
Hujanku adalah saat payung nya bekerja
Jadi......
Untuk apa kau berusaha membuatku menangis ??
Kekuatanmu sudah tak ada
Kau boleh pergi diam-diam atau menyaksikan cahaya menerangiku.....
Kali ini.....
Kau yang akan pilu
jakarta 24 mei 2009
Penuh CINTA di laci nakas
Kutemukan benda terbalut velvet hitam berpita merah.di dalam laci urutan ketiga di nakas samping tempat tidurku. Wangi dirimu langsung tertangkap indera penciumanku ini. Aku terkesiap, kurasakan hangat tetesan air menyentuh ujung mataku. Dalam waktu penghabisanmu, kau sempat menyiapkan sesuatu untukku, dan aku sama sekali tak menyadarinya. Tidak saja saat ini, tapi juga beberapa waktu yang terbuang percuma dengan tak terpuaskan nya bathinku akan cintamu. Kenapa disaat raga kita tidak lagi bisa berdekatan, kau buktikan aku salah.
Kuambil benda bersarung velvet itu, terasa lembut lagi wangi, mencium nya saja sudah membuat kerinduan yang sangat akan hadirmu. Perlu waktu beberapa menit untuk mempersiapkan diriku membuka nya.
Sebuah kotak kecil berkayu cendana dengan logam ukir bertuliskan "Bukalah dengan hatimu, kau akan menemukan kuncinya...". Aku menangis.....Memerlukan menit babak kedua untuk berhenti sesaat menbaca ukiran tulisan itu. Gemetarku tak hilang....seperti mengenal dirimu pada pribadi yang lain, yang tidak pernah aku kenal sebelumnya.
Kuusap perlahan kotak itu, sebuah kunci berkombinasi terlihat di salah satu sisinya. Kuberpikir sejenak, dan ku cari kombinasai angka bertanggal hari pernikahan ku dengannya. Sekilas aku kembali membaca ukiran pada logam itu, kan kubuka dengan hatiku gumanku. Kudapati setumpuk amplop putih berhias gambar bunga timbul di sekelilingnya.....lagi-lagi wangi dirimu yang tercium. Aku mengusapnya pelan. Setumpuk amplop indah.....semuanya berjumlah lima....entah apa maknanya....
Amplop putih pertama yg kubuka sudah usang, warnanya mulai menguning. Gemetar kubuka dengan hati-hati dan mulai membacanya.
10 februari 1970
Aku manusia paling beruntung didunia, hari ini telah diberikanNYA aku anugerah untuk dipertemukan dengan sebelah hatiku yang telah lama aku tunggu. Dari melihat nya saja aku sudah terpana kagum dan menentukan, dia lah yang aku cari. Sosok anggun dan berparas lembut dengan kulit yang terawat menyita perhatian tidak saja aku, tapi sebagian besar orang-orang yang berada di perpustakaan itu. Tersumbat kerongkongan dibuatnya dan aku pun menelan ludah. Duhai cantik sekali perempuan ini, dialah yang pantas kuperistri gumanku. Ku tak mau mengambil resiko didahului oleh lelaki yang sedang ramai membicarakannya, dengan langkah santai kudekati si paras cantik itu. Membuat gerakan terbaiku dan bertanya tentang sebuah buku yang kelihatannya sangat ia sukai. Perkiraan ku benar, ia sedang kebingungan mencari sebuah buku yang kebetulan aku sangat mengenal isi buku itu dengan baik. Tanpa memerlukan waktu panjang, kami sudah asik terlibat membahas buku itu. Itu adalah momen terbaiku selama aku hidup. Bertemu dengan perempuan yang bakal menjadi ibu dari anak-anaku kelak pikirku dengan percaya diri. Betapa bangga dan bersyukurnya aku jika hal ini cepat terwujud.....dan lebih berbangga serta bersyukur lagi si cantik ini jika aku yg jadi suaminya, karna aku orang yg paling tepat untuk ia cintai dan aku akan menjaga nya terus dalam kebahagiaan.
###
Aku menghela nafas panjang, air mataku kian deras membaca kalimat demi kalimat yang ditulis olehnya. Perasaan meluap luap dengan muatan emosi positif menguasaiku. Aku kembali menangis dan membuat jeda sesaat dalam pikiran yang penuh penyesalan. Bahwa ternyata suamiku amat memujaku, sikap nya selama ini yang bertolak belakang ternyata menyimpan kebanggaan terhadapku.
Kuambil amplop putih yang kedua :
6 juni 1973
Terimakasih Ya Tuhan atas karunia yang telah KAU limpahkan pada kami, KAU tlah mempercayakan aku dan istriku hari ini untuk titipanMU yang teramat cantik. Betapa bahagianya aku, walau aku jg sangat sedih melihat istriku kesakitan sepanjang malam tadi. Jika aku yang mengalaminya, belum tentu aku sanggup.
Terimakasih my darling, istriku sayang......kamu sudah membuatku lengkap sebagai seorang laki-laki. memanjangkan cinta ku padamu dan membuat jembatan kita berdua dalam cinta.
####
Lagi-lagi aku terkesima, menatap surat seumur anak kami yg pertama itu dengan perasaan yang entah apa kurasakan. Selama ini aku selalu mengeluh jika suamiku sering melupakan hari ulang tahunku atau hari jadi pernikahan kami. Aku sering protes padanya jika ia tidak mengomentari penampilan ku, atau pekerjaan yang telah aku selesaikan. Aku berpikir bahwa ia orang yang sangat tidak perhatian, tapi ternyata momen-momen tertentu begitu sangat dikenangnya. Meledak rasanya mendapatiku berada di dalam nya.
Tak sabar untuk segera membaca surat demi surat yang mulai membuatku berpikir ulang untuk menilai suamiku secara utuh. Surat berikutnya yang aku buka membuat aku betul-betul terdiam. Amplop surat ketiga ini berisikan 10 lembar kertas kosong tanpa tulisan satu kata pun, hanya tertulis tanggal surat itu dibuat yaitu 19 September 1980. Sepuluh lembar kertas putih kosong yang terlipat rapih membuat tanya yang sangat ingin kuketahui jawabannya. Terlihat sebuah kartu warna biru muda berhias renda putih terjepit bersama sepuluh lembar kertas kosong itu. Aku membuka kartu itu. Semerbak harum yang amat kusuka segera menyapa penciuman ku. Terdapat bunga kering yg tergantung pita kecil didalam lipatan kartu itu. Kemudian aku mulai membaca nya,
20 September 1980
Sayangku, sebenarnya dari kemarin aku ingin menulis sesuatu untukmu. Kukerahkan segenap kemampuan ku untuk merangkai kata, tapi tak kuasa terlaksana. Sekali lagi hanya kata MAAF yang mampu tertulis dan terucap ribuan kali dengan rasa penyesalan yg dalam atas perbuatan ku padamu. Aku tahu kata itu tak akan mampu mengobati luka nya hatimu, berapa kali pun yg terucap....sebanyak apapun yg terkatakan.....kau akan tetap mengingat nya. Dosa ku jika sampai dirimu tidak akan pernah bisa melupakan perbuatan ku. Sampai kapanpun, aku akan terus mengucapkan maaf untukmu. Seperti sepuluh lembar kertas kosong itu, aku berikan padamu hingga kau bisa mengisi nya untuku dengan kata apapun yg kau mau. Sebagai awalnya mungkin bisa kau tuliskan bahwa betapa beruntung nya aku menjadi suamimu. Betapa tidak tahu dirinya aku menghianatimu dan tidak menjaga kepercayaan yg telah kau berikan. Berkata katalah padaku sayang, apapun itu......akan sangat berarti buatku.
#####
Aku menangis.....
Suratnya yg ketiga ini, mau tidak mau mengingatkan aku akan peristiwa yg ingin aku lupakan selamanya. Tidak ingin aku mengingatnya lagi. Dengan membacanya, aku kembali mengulang masa ketika aku begitu membenci suamiku. Dialah orang yang paling aku kutuk waktu itu. Marah, sedih, murka, benci, menangis hanya itu perasaan yg aku tumpahkan selama beberapa bulan sesudah nya dan bertahun setelahnya. Rasa rendah diri dan merasa menjadi org yg plg tdk berguna pernah singgah di diriku. Semuanya terjadi karena aku mendapati suamiku berhianat. Ia menjalin hubungan diam-diam dengan wanita lain. Syok ketika aku mengetahuinya untuk pertama kali. Arrrgghhh....sudahlah aku tak mau mengingat nya lagi, aku membathin.
Kuambil pulpen yg tergeletak, kutulis sebuah kalimat di kertas putih kosong surat suamiku :
"Aku memaafkanmu...."
(Kan kuselesaikan kalimat2 itu jika sudah kutemukan akhirnya)
6 Agustus 2009
Kuambil benda bersarung velvet itu, terasa lembut lagi wangi, mencium nya saja sudah membuat kerinduan yang sangat akan hadirmu. Perlu waktu beberapa menit untuk mempersiapkan diriku membuka nya.
Sebuah kotak kecil berkayu cendana dengan logam ukir bertuliskan "Bukalah dengan hatimu, kau akan menemukan kuncinya...". Aku menangis.....Memerlukan menit babak kedua untuk berhenti sesaat menbaca ukiran tulisan itu. Gemetarku tak hilang....seperti mengenal dirimu pada pribadi yang lain, yang tidak pernah aku kenal sebelumnya.
Kuusap perlahan kotak itu, sebuah kunci berkombinasi terlihat di salah satu sisinya. Kuberpikir sejenak, dan ku cari kombinasai angka bertanggal hari pernikahan ku dengannya. Sekilas aku kembali membaca ukiran pada logam itu, kan kubuka dengan hatiku gumanku. Kudapati setumpuk amplop putih berhias gambar bunga timbul di sekelilingnya.....lagi-lagi wangi dirimu yang tercium. Aku mengusapnya pelan. Setumpuk amplop indah.....semuanya berjumlah lima....entah apa maknanya....
Amplop putih pertama yg kubuka sudah usang, warnanya mulai menguning. Gemetar kubuka dengan hati-hati dan mulai membacanya.
10 februari 1970
Aku manusia paling beruntung didunia, hari ini telah diberikanNYA aku anugerah untuk dipertemukan dengan sebelah hatiku yang telah lama aku tunggu. Dari melihat nya saja aku sudah terpana kagum dan menentukan, dia lah yang aku cari. Sosok anggun dan berparas lembut dengan kulit yang terawat menyita perhatian tidak saja aku, tapi sebagian besar orang-orang yang berada di perpustakaan itu. Tersumbat kerongkongan dibuatnya dan aku pun menelan ludah. Duhai cantik sekali perempuan ini, dialah yang pantas kuperistri gumanku. Ku tak mau mengambil resiko didahului oleh lelaki yang sedang ramai membicarakannya, dengan langkah santai kudekati si paras cantik itu. Membuat gerakan terbaiku dan bertanya tentang sebuah buku yang kelihatannya sangat ia sukai. Perkiraan ku benar, ia sedang kebingungan mencari sebuah buku yang kebetulan aku sangat mengenal isi buku itu dengan baik. Tanpa memerlukan waktu panjang, kami sudah asik terlibat membahas buku itu. Itu adalah momen terbaiku selama aku hidup. Bertemu dengan perempuan yang bakal menjadi ibu dari anak-anaku kelak pikirku dengan percaya diri. Betapa bangga dan bersyukurnya aku jika hal ini cepat terwujud.....dan lebih berbangga serta bersyukur lagi si cantik ini jika aku yg jadi suaminya, karna aku orang yg paling tepat untuk ia cintai dan aku akan menjaga nya terus dalam kebahagiaan.
###
Aku menghela nafas panjang, air mataku kian deras membaca kalimat demi kalimat yang ditulis olehnya. Perasaan meluap luap dengan muatan emosi positif menguasaiku. Aku kembali menangis dan membuat jeda sesaat dalam pikiran yang penuh penyesalan. Bahwa ternyata suamiku amat memujaku, sikap nya selama ini yang bertolak belakang ternyata menyimpan kebanggaan terhadapku.
Kuambil amplop putih yang kedua :
6 juni 1973
Terimakasih Ya Tuhan atas karunia yang telah KAU limpahkan pada kami, KAU tlah mempercayakan aku dan istriku hari ini untuk titipanMU yang teramat cantik. Betapa bahagianya aku, walau aku jg sangat sedih melihat istriku kesakitan sepanjang malam tadi. Jika aku yang mengalaminya, belum tentu aku sanggup.
Terimakasih my darling, istriku sayang......kamu sudah membuatku lengkap sebagai seorang laki-laki. memanjangkan cinta ku padamu dan membuat jembatan kita berdua dalam cinta.
####
Lagi-lagi aku terkesima, menatap surat seumur anak kami yg pertama itu dengan perasaan yang entah apa kurasakan. Selama ini aku selalu mengeluh jika suamiku sering melupakan hari ulang tahunku atau hari jadi pernikahan kami. Aku sering protes padanya jika ia tidak mengomentari penampilan ku, atau pekerjaan yang telah aku selesaikan. Aku berpikir bahwa ia orang yang sangat tidak perhatian, tapi ternyata momen-momen tertentu begitu sangat dikenangnya. Meledak rasanya mendapatiku berada di dalam nya.
Tak sabar untuk segera membaca surat demi surat yang mulai membuatku berpikir ulang untuk menilai suamiku secara utuh. Surat berikutnya yang aku buka membuat aku betul-betul terdiam. Amplop surat ketiga ini berisikan 10 lembar kertas kosong tanpa tulisan satu kata pun, hanya tertulis tanggal surat itu dibuat yaitu 19 September 1980. Sepuluh lembar kertas putih kosong yang terlipat rapih membuat tanya yang sangat ingin kuketahui jawabannya. Terlihat sebuah kartu warna biru muda berhias renda putih terjepit bersama sepuluh lembar kertas kosong itu. Aku membuka kartu itu. Semerbak harum yang amat kusuka segera menyapa penciuman ku. Terdapat bunga kering yg tergantung pita kecil didalam lipatan kartu itu. Kemudian aku mulai membaca nya,
20 September 1980
Sayangku, sebenarnya dari kemarin aku ingin menulis sesuatu untukmu. Kukerahkan segenap kemampuan ku untuk merangkai kata, tapi tak kuasa terlaksana. Sekali lagi hanya kata MAAF yang mampu tertulis dan terucap ribuan kali dengan rasa penyesalan yg dalam atas perbuatan ku padamu. Aku tahu kata itu tak akan mampu mengobati luka nya hatimu, berapa kali pun yg terucap....sebanyak apapun yg terkatakan.....kau akan tetap mengingat nya. Dosa ku jika sampai dirimu tidak akan pernah bisa melupakan perbuatan ku. Sampai kapanpun, aku akan terus mengucapkan maaf untukmu. Seperti sepuluh lembar kertas kosong itu, aku berikan padamu hingga kau bisa mengisi nya untuku dengan kata apapun yg kau mau. Sebagai awalnya mungkin bisa kau tuliskan bahwa betapa beruntung nya aku menjadi suamimu. Betapa tidak tahu dirinya aku menghianatimu dan tidak menjaga kepercayaan yg telah kau berikan. Berkata katalah padaku sayang, apapun itu......akan sangat berarti buatku.
#####
Aku menangis.....
Suratnya yg ketiga ini, mau tidak mau mengingatkan aku akan peristiwa yg ingin aku lupakan selamanya. Tidak ingin aku mengingatnya lagi. Dengan membacanya, aku kembali mengulang masa ketika aku begitu membenci suamiku. Dialah orang yang paling aku kutuk waktu itu. Marah, sedih, murka, benci, menangis hanya itu perasaan yg aku tumpahkan selama beberapa bulan sesudah nya dan bertahun setelahnya. Rasa rendah diri dan merasa menjadi org yg plg tdk berguna pernah singgah di diriku. Semuanya terjadi karena aku mendapati suamiku berhianat. Ia menjalin hubungan diam-diam dengan wanita lain. Syok ketika aku mengetahuinya untuk pertama kali. Arrrgghhh....sudahlah aku tak mau mengingat nya lagi, aku membathin.
Kuambil pulpen yg tergeletak, kutulis sebuah kalimat di kertas putih kosong surat suamiku :
"Aku memaafkanmu...."
(Kan kuselesaikan kalimat2 itu jika sudah kutemukan akhirnya)
6 Agustus 2009
Papaku, Ayahku sayang
The real SOLDIER is the real PATRIOT...
The real patriot is the real MAN....
Banyak hal yg aku kenang dlm diri papaku....
Beliau orang nya sangat keras, cenderung otoriter (menurut megy, adikku)....beliau juga sangat disiplin dan pemuja keteraturan, penganut perencanaan matang, Sistematis dan sejuta hal membosankan lainnya.
Hidup dalam lingkaran hal2 tersebut sungguh sangat menyiksa, terutama ketika kami semua (aku dan adik2) sedang tumbuh dalam masa kanak2 menuju remaja. Rutinitas yang diawali dengan bangun sangat pagi, shalat shubuh berjamaah, membereskan kamar masing2, membereskan rumah, mandi, dan bersiap2 pergi sekolah adalah hal yg kala itu sangat membebani kami. Hingga rasanya ingin cepat2 pergi ke sekolah dan mendapatkan "kebebasan" sesaat disana.
"Pemenjaraan kebebasan" itu berlanjut ketika pulang sekolah (yg harus tepat waktu), berganti baju, makan siang, istirahat dan siap2 pergi les atau mengaji. Sungguh suatu kehidupan monoton tanpa bisa memprotes sedikitpun. Sampai tiba waktu bertemu beliau pada saat menjelang maghrib -adalah puncak- hari2 "penyiksaan" itu....
Kami ber-empat berhadapan dgn beliau untuk berdialog (sebenarnya bukan, karena banyak komunikasi satu arah nya) membahas apa saja yg kami alami sepanjang hari itu, kebanyakan adalah hal2 yg terjadi disekolah. Beliau kembali menanyakan materi pelajaran disekolah tadi, bertanya tentang PR, dan berakhir dengan tanya jawab (intinya, selalu tentang pertanyaan).
OSPEK belum lah ada apa2 nya dibanding saat2 itu.Tak jarang kami selalu berharap mama akan datang dan meng-iterupsi semua kegiatan itu, tapi tak pernah terjadi hingga berakhir satu jam kemudian untuk kembali ke kamar masing2 dan meneruskan kegiatan (lagi2) belajar.
Jika dipikir pikir, waktu masa kecil ku dihabiskan untuk belajar, belajar dan belajar dalam hal apa saja...baik itu pelajaran sekolah ataupun pelajaran tentang hidup yg disampaikan lsg oleh alm.papa, dan disampaikan ala beliau yaitu, "Langsung, tepat, padat dan anti gagal"....(Anti gagal-karena memang terbukti benar dikemudian hari)
Dibalik kegalakan dan ketegasan nya, beliau sangat perhatian (tentu dgn cara nya sendiri), beliau sangat senang membelikan kami pakaian yg dipilihnya sendiri walau 4 anak nya adalah perempuan. Membungkus nya rapi dan meletakannya di atas meja belajar atau tempat tidur ketika kami sedang tidak ada dirumah. Dapat selalu dipastikan, aku mendapat kaos atau kemeja dengan celana pendek dan berganti celana panjang ketika beranjak remaja....Tomboy all the way.....Hahahaha cocok dengan kegiatan luar rumah yg kami lakukan ketika hari libur datang yaitu olah raga. Sedikit sekali waktu luangku diijinkan untuk dipakai bermain, boro2 ke mall, untuk sekedar menikmati permainan games pun tidak. Beliau lebih suka mengajak kami ke kebun binatang , museum dan tempat olah raga.
Aku masih ingat ketika papa mengajak kami semua ke museum (dulu) ABRI. Menerangkan ini itu bla bla bla sampai2 adikku merengek minta pulang. Tidak saja itu, sesampai dirumah, kami diwajibkan membuat karangan singkat tentang kunjungan 'wisata' tadi.
Salah satu pelajaran yg menurutku sangat berharga yg kami terima adalah tentang ulang tahun. Disaat teman2 ku berlomba lomba merayakan ultah nya di tpt yang bagus dengan acara yg sangat meriah dan mengundang banyak orang, papa justru mengajarkan kami kesederhanaan. Ultah mengingatkan kita akan kesempatan hidup yg berkurang setahun, bersyukur adalah perayaan nya. Bahwa kita telah diberikan tambahan umur dan memikirkan apa saja yg sudah kita perbuat.... beliau tidak lupa tanggal ultah kami semua, tp beliau tidak mengajarkan kami untuk merayakannya besar2an.....kami hanya makan nasi kuning dirumah, berdoa bersama.... dan tentu saja pemberian hadiah. Hadiah nya pun pasti ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Jadi hampir setiap tahun, hadiah ultah yg kami terima adalah berbagai macam buku, kaset atau cd pelajaran dan buku2 ensiklopedi.
Bertambahnya umur kami, bertambah pula kegalak kan beliau. Aku ingat ketika masuk SMU kelas 1, aku takut sekali kalo ada teman ku yg datang kerumah, terutama laki-laki. Bukan apa2, kasian bakal ditanya ini itu atau malah kadang dimarahin. Kan kasian anak orang dimarah-marahin, belum lagi aku jadi malu dengan 'kegiatan dadakan' papa ketika ada teman yg datang berkunjung.....pura2 baca koran dan dengan cuek nya duduk satu sofa bergabung bersama teman ku yg dtg tadi. Hahahaha jelas sangat uncomfortable lah jd nya....
Semua ketidak nyamanan itu, baru kurasakan bermanfaat setelah beliau tidak ada. Bahkan kadang justru ada kerinduan untuk disidak olehnya, ditanya tanya oleh beliau, dimarahin dan diberi tugas. Ajaran2 beliau terasa sangat berguna untukku dalam menjalani hidup atau ketika mendapat satu masalah yg pelik dan menyita perhatianku. Sesaat aku berfikir kl beliau masih ada, kira2 apa ya yg akan beliau berikan sebagai nasihat.
Hidup dengan beliau sekian lama mambentuk pola pikir ku dalam memahami nya. Setelah hampir sepanjang hidupku mengeluh akan 'kekerasan' beliau dlm mendidik anak-anaknya. Lambat laun memberikan ku sebuah jawaban, tentang kemandirian, kedisiplinan, kecerdasan dan kepintaran, kasih sayang tapi tidak memanjakan serta kegigihan dalam menjalani sesuatu. Sungguh suatu warisan tak ternilai yg beliau tinggalkan.
Walau aku sendiri tidak akan pernah jadi orang yg sempurna, mendekati pun tidak. tapi setidaknya ada manfaat besar yg didapat dari "kesengsaraan" yg dulu pernah kami jalani, dan sampai saat ini masih tertinggal di dlm diri dan dijadikan kebiasaan, rutinitas ataupun gaya hidup.
Keras dlm mendidik, kedisiplinan dan kemandirian.....tanpa kasih sayang akan menghasilkan generasi pemarah, penuntut, tidak bisa memahami perasaan orang lain dan ego maniac......
Sebaliknya, kasih sayang yg berlebihan, kemanjaan, full fasilitas dan terlalu banyak kemudahan, akan membuat generasi yg lembek, gampang menyerah dan juga manja......
Terimaksih pa.....
I love u so much.....
The real patriot is the real MAN....
Banyak hal yg aku kenang dlm diri papaku....
Beliau orang nya sangat keras, cenderung otoriter (menurut megy, adikku)....beliau juga sangat disiplin dan pemuja keteraturan, penganut perencanaan matang, Sistematis dan sejuta hal membosankan lainnya.
Hidup dalam lingkaran hal2 tersebut sungguh sangat menyiksa, terutama ketika kami semua (aku dan adik2) sedang tumbuh dalam masa kanak2 menuju remaja. Rutinitas yang diawali dengan bangun sangat pagi, shalat shubuh berjamaah, membereskan kamar masing2, membereskan rumah, mandi, dan bersiap2 pergi sekolah adalah hal yg kala itu sangat membebani kami. Hingga rasanya ingin cepat2 pergi ke sekolah dan mendapatkan "kebebasan" sesaat disana.
"Pemenjaraan kebebasan" itu berlanjut ketika pulang sekolah (yg harus tepat waktu), berganti baju, makan siang, istirahat dan siap2 pergi les atau mengaji. Sungguh suatu kehidupan monoton tanpa bisa memprotes sedikitpun. Sampai tiba waktu bertemu beliau pada saat menjelang maghrib -adalah puncak- hari2 "penyiksaan" itu....
Kami ber-empat berhadapan dgn beliau untuk berdialog (sebenarnya bukan, karena banyak komunikasi satu arah nya) membahas apa saja yg kami alami sepanjang hari itu, kebanyakan adalah hal2 yg terjadi disekolah. Beliau kembali menanyakan materi pelajaran disekolah tadi, bertanya tentang PR, dan berakhir dengan tanya jawab (intinya, selalu tentang pertanyaan).
OSPEK belum lah ada apa2 nya dibanding saat2 itu.Tak jarang kami selalu berharap mama akan datang dan meng-iterupsi semua kegiatan itu, tapi tak pernah terjadi hingga berakhir satu jam kemudian untuk kembali ke kamar masing2 dan meneruskan kegiatan (lagi2) belajar.
Jika dipikir pikir, waktu masa kecil ku dihabiskan untuk belajar, belajar dan belajar dalam hal apa saja...baik itu pelajaran sekolah ataupun pelajaran tentang hidup yg disampaikan lsg oleh alm.papa, dan disampaikan ala beliau yaitu, "Langsung, tepat, padat dan anti gagal"....(Anti gagal-karena memang terbukti benar dikemudian hari)
Dibalik kegalakan dan ketegasan nya, beliau sangat perhatian (tentu dgn cara nya sendiri), beliau sangat senang membelikan kami pakaian yg dipilihnya sendiri walau 4 anak nya adalah perempuan. Membungkus nya rapi dan meletakannya di atas meja belajar atau tempat tidur ketika kami sedang tidak ada dirumah. Dapat selalu dipastikan, aku mendapat kaos atau kemeja dengan celana pendek dan berganti celana panjang ketika beranjak remaja....Tomboy all the way.....Hahahaha cocok dengan kegiatan luar rumah yg kami lakukan ketika hari libur datang yaitu olah raga. Sedikit sekali waktu luangku diijinkan untuk dipakai bermain, boro2 ke mall, untuk sekedar menikmati permainan games pun tidak. Beliau lebih suka mengajak kami ke kebun binatang , museum dan tempat olah raga.
Aku masih ingat ketika papa mengajak kami semua ke museum (dulu) ABRI. Menerangkan ini itu bla bla bla sampai2 adikku merengek minta pulang. Tidak saja itu, sesampai dirumah, kami diwajibkan membuat karangan singkat tentang kunjungan 'wisata' tadi.
Salah satu pelajaran yg menurutku sangat berharga yg kami terima adalah tentang ulang tahun. Disaat teman2 ku berlomba lomba merayakan ultah nya di tpt yang bagus dengan acara yg sangat meriah dan mengundang banyak orang, papa justru mengajarkan kami kesederhanaan. Ultah mengingatkan kita akan kesempatan hidup yg berkurang setahun, bersyukur adalah perayaan nya. Bahwa kita telah diberikan tambahan umur dan memikirkan apa saja yg sudah kita perbuat.... beliau tidak lupa tanggal ultah kami semua, tp beliau tidak mengajarkan kami untuk merayakannya besar2an.....kami hanya makan nasi kuning dirumah, berdoa bersama.... dan tentu saja pemberian hadiah. Hadiah nya pun pasti ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Jadi hampir setiap tahun, hadiah ultah yg kami terima adalah berbagai macam buku, kaset atau cd pelajaran dan buku2 ensiklopedi.
Bertambahnya umur kami, bertambah pula kegalak kan beliau. Aku ingat ketika masuk SMU kelas 1, aku takut sekali kalo ada teman ku yg datang kerumah, terutama laki-laki. Bukan apa2, kasian bakal ditanya ini itu atau malah kadang dimarahin. Kan kasian anak orang dimarah-marahin, belum lagi aku jadi malu dengan 'kegiatan dadakan' papa ketika ada teman yg datang berkunjung.....pura2 baca koran dan dengan cuek nya duduk satu sofa bergabung bersama teman ku yg dtg tadi. Hahahaha jelas sangat uncomfortable lah jd nya....
Semua ketidak nyamanan itu, baru kurasakan bermanfaat setelah beliau tidak ada. Bahkan kadang justru ada kerinduan untuk disidak olehnya, ditanya tanya oleh beliau, dimarahin dan diberi tugas. Ajaran2 beliau terasa sangat berguna untukku dalam menjalani hidup atau ketika mendapat satu masalah yg pelik dan menyita perhatianku. Sesaat aku berfikir kl beliau masih ada, kira2 apa ya yg akan beliau berikan sebagai nasihat.
Hidup dengan beliau sekian lama mambentuk pola pikir ku dalam memahami nya. Setelah hampir sepanjang hidupku mengeluh akan 'kekerasan' beliau dlm mendidik anak-anaknya. Lambat laun memberikan ku sebuah jawaban, tentang kemandirian, kedisiplinan, kecerdasan dan kepintaran, kasih sayang tapi tidak memanjakan serta kegigihan dalam menjalani sesuatu. Sungguh suatu warisan tak ternilai yg beliau tinggalkan.
Walau aku sendiri tidak akan pernah jadi orang yg sempurna, mendekati pun tidak. tapi setidaknya ada manfaat besar yg didapat dari "kesengsaraan" yg dulu pernah kami jalani, dan sampai saat ini masih tertinggal di dlm diri dan dijadikan kebiasaan, rutinitas ataupun gaya hidup.
Keras dlm mendidik, kedisiplinan dan kemandirian.....tanpa kasih sayang akan menghasilkan generasi pemarah, penuntut, tidak bisa memahami perasaan orang lain dan ego maniac......
Sebaliknya, kasih sayang yg berlebihan, kemanjaan, full fasilitas dan terlalu banyak kemudahan, akan membuat generasi yg lembek, gampang menyerah dan juga manja......
Terimaksih pa.....
I love u so much.....
Langganan:
Postingan (Atom)